Membangun Spirit

8 08 2009

PERLUNYA SPIRIT NASIONALISME HUMANITER

Mengenang Perayaan Kebangkitan Nasional 2007

Oleh: Josep Antonius Ufi, MA.

Staff Dosen FISIP Unpatti

Mengenang perayaan “Kebangkitan Nasional” tanggal 20 Mei tahun 2007 ini, saya sharingkan satu pengalaman kecil bersama teman-teman Mahasiswa Indonesia yang mengikuti studi lanjut S2 di Universiteit Maastricht Netherlands dengan dukungan stuned scholarship program tahun 2002. Kebetulan sekali terdapat 17 Mahasiswa Indonesia waktu itu yang studinya tersebar pada berbagai program studi S2 di berbagai fakultas di Universiteit Maastricht, termasuk saya, yang mengambil program S2 sosiologi iptek atau society, science & technology studies (STS). Ini untuk pertama kali spirit nasionalisme kita tertantang di tengah suasana pengalaman yang sangat internasional di antaranya karena terjadi kompetisi akademik antara puluhan bahkan ratusan mahasiswa internasional dari puluhan negara. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman kami mengikuti ujian minggu pertama. Pola ujian umumnya terdiri dari ujian lisan, ujian tulisan, dan tugas paper. Hasilnya adalah ke-16 mahasiswa Indonesia lainnya memperoleh nilai serba minus, sedangkan di program studi saya hanya ada 4 orang mahasiswa (dari 35 mahasiswa dari 19 negara) yang memperoleh nilai A, termasuk saya dari Indonesia. Saya sendiri kaget ketika tiba-tiba saya didatangi oleh teman-teman saya dengan rasa bangga menyalami saya dan sekaligus meminta saya menginformasikan nilai saya ke Netherland Education Center (NEC) di Jakarta, yang intinya hendak menyatakan bahwa kita Mahasiswa Indonesia juga mampu memperoleh nilai tinggi dan mampu bersaing dalam kompetisi akademik global. Itulah satu contoh kecil dari pengalaman spirit nasionalisme yang dialami secara nyata, teristimewa ketika berada dalam percaturan akademik global misalnya.

Lantas, apa sebetulnya spirit nasionalisme humaniter itu? Apa makna nasionalisme humaniter buat kita generasi muda Indonesia, termasuk dalam dunia Pendidikan Tinggi di Maluku kini? Dialog Dimensi Pagi TVRI, Minggu pagi tanggal 20 Mei 2007 yang dipandu oleh Pegy & Dery mengangkat tema membangun karakter bangsa /spirit nasionalisme. Dialog Nasionalisme tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yakni Bapak Sumarno, Dosen Senior Lemhanas, Bapak Mohammad Sobary, Budayawan, dan Ibu Hartarti. Dialog Nasionalisme tersebut menyimpulkan diantaranya bahwa, dengan mengambil contoh negara-negara yang pesat perkembangan dan kemajuan karena  kuatnya karakter bangsa, seperti Jepang, Korea, Cina, Eropa, USA, dan bahkan Vietnam, maka bangsa Indonesia hanya bisa maju juga kalau betul-betul mau mengamalkan spirit & karakter kebangsaan yang kuat. Misalnya, spirit menghargai kepelbagaian, memobilisasi kekuatan kepelbagaian/pluriformitas modalitas bangsa untuk kemajuan, mengamalkan tata nilai sosial, keadilan sosial dan solidaritas kemanusiaan, norma dan etika kehidupan, kerja keras dan berdisiplin diri yang tinggi, memiliki hati nurani yang peka, serta ketulusan dan kejujuran sebagai pemimpin (bdk. Herman Musakabe, Pemimpin dan Krisis Multidimensi, Etika dan Moralitas Kepemimpinan, 2001). Ditegaskan oleh Bapak Sumarno misalnya, bahwa pembangunan spirit dan karakter bangsa seperti tersebut di atas hendaknya dimulai dari dari dunia pendidikan nasional. Hendaknya para guru dan staff dosen di Perguruan Tinggi perlu dibekali dengan modalitas pengamalan spirit nasionalisme humaniter tersebut agar dapat memberikan suri teladan yang baik kepada peserta didik dan mahasiswa mereka di bangku pendidikan. Untuk tujuan itu, maka Bapak Suwarno beserta timnya sedang mengadakan koordinasi dengan para Rektor Perguruan Tinggi guna menyelenggarakan program pendidikan khusus bagi para guru dan para dosen dalam rangka pembangunan karakter bangsa. Isinya adalah penanaman spirit kebangsaan yang mengapresiasi makna pluralitas dan pluriformitas sara, membentukan wawasan visi kemanusiaan universal, spirit keadilan sosial dan solidaritas, mengasa kepekaan hati nurani, serta kejujuran dan keteladanan sebagai pemimpin. Lantas, apa pelajaran dan makna aktualnya bagi dunia Pendidikan Tinggi termasuk Universitas Pattimura ke depan?

Memang spirit nasionalisme humaniter sebagaimana diuraikan di atas memiliki relevansi dan makna aktual yang tinggi khususnya bagi Civitas Academica Unpatti. Mengapa? Sudah menjadi rahasia umum, bahwa dalam konflik sosial di Ambon Maluku, Universitas Pattimura atas salah satu cara juga dipersepsikan secara luas sebagai bagian dari konflik Maluku sehingga infrastruktur fisiknya tidak luput dari upaya untuk dirusakkan.  Di mana oleh para pihak dianggap masih mempraktekkan secara luas sikap dan karakter diskriminasi, ketidakadilan, mengutamakan kepentingan sempit kelompok, bahkan penuh dengan intrik-intrik politik antar kelompok kepentingan sempit, termasuk berbagai persaingan yang tidak sehat. Akibatnya kemajuan ipteknya atau motto pendidikan melalui iptek pada universiteitnya menjadi terdistorsi dan stagnan, berkurangnya mutu serta para mahasiswanya cenderung kurang mendapatkan pembekalan akademis yang bermutu dan memadai sebagaimana yang diharapkan dan yang menjadi hak mereka. Pengalaman-pengalaman ini jelas menunjukkan betapa lemah dan rapuhnya spirit nasionalisme humaniter pada sebagian akademisi di lingkungan unpatti.

Perjanjian Damai Maluku Malino II tahun 2002 dalam butir ke-11 yang mengamanatkan khusus tentang rekonsiliasi bagi kedamaian hakiki dan rekonsolidasi akademis termasuk di Unpatti dalam mencegah praktek diskriminasi, menegakkan keadilan, menjaga perimbangan dan prioritas mutu sumber daya manusia kiranya menjadi tonggak sejarah baru bagi unpatti sebagai satu-satunya universitas negeri nasional di Maluku dalam rangka menghidupkan dan menggerakkan kembali semangat nasionalisme humaniter sekaligus memotivasi praktek pendidikan nasional melalui iptek berkualitas ke depan. Spirit Dies Natalis Unpatti yang upacara seremonialnya baru saja dilangsungkan pada Awal Mei 2007, yang diikuti dengan perayaan “Kebangkitan Nasional” tanggal 20 Mei tahun 2007 ini kiranya menjadi momentum baru bagi segenap Civitas Academica Universitas Pattimura (Unpatti) guna melakukan koreksi diri, refleksi diri, kritik diri yang konstruktif, serta introspeksi diri khususnya dalam hal membangkitkan kembali spirit nasionalisme humaniter dalam praksis akademisnya melalui rekonsolidasi dan reorientasi aktivitas tri dharma perguruan tingginya ke depan. Ini sungguh merupakan sebuah panggilan (vocation), sebuah tanggung jawab (aufgabe /responsibility) dan urgensi akademis dalam mempersiapkan para mahasiswa menjadi calon ilmuwan, calon cendekiawan, calon intelektual, calon pemimpin dan calon negarawan yang sekaligus nasionalis tetapi juga humanis ke depan. Yakni menjadi intelektual yang berwawasan humanisme universal, termasuk sanggup berkompetisi pada arena kompetisi akademis (iptek) global, tetapi mampu bertindak sesuai tuntutan kebutuhan nasional dan lokal sesuai dengan motto : think globally, act nationally & locally, Semoga!!

(Penulis juga seorang pemerhati dan praktisi sosial & kemanusiaan di Maluku)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: