YANG MENDERITA YANG MENGHIDUPAKAN

8 08 2009

Suara Perempuan Peduli Perdamaian Hakiki Dari Ambon Maluku[i]

Josep Antonius Ufi & Sr. Brigitta Renyaan, PBHK[ii]

Momentum Baru Kebangkitan Perempuan dari Ambon!

Blessing in the guess!” Motto ini dapat mengungkapkan pengalaman aktor perempuan peduli dari Ambon; bahwa dalam arti tertentu ‘Konflik Ambon ternyata banyak memberdayakan perempuan’ (wawancara #6 ; Pelu & Ufi, 2005). Bahkan peran influensial dari perempuan bagi perdamaian Ambon & Maluku sekaligus bercorak paradoksal & fenomenal

Dikatakan sebuah paradoks karena pada saat yang sama, perempuan –bersama orang tua dan anak-anak- adalah pihak yang paling dirugikan, dikorbankan dan dibuat menderita oleh konflik Ambon; tetapi justru perempuan jualah yang dalam banyak hal, paling aktif berperan sebagai pelopor, penginisiatif, filter dan motor bagi usaha perdamaian & sumber kehidupan keluarga. Corak fenomenalnya didasarkan pada kenyataan bahwa peranan aktual perempuan bagi perdamaian amat menonjol, yang merupakan sebuah kombinasi yang harmonis antara mereka di lembaga formal (pemerintahan) maupun aktor non formal (praktisi) baik dalam gerakan perempuan peduli, maupun NGO, dan secara individu. Jabatan Wakil Gubernur Maluku   yang dipegang oleh Ibu Paula Renyaan, seorang perempuan peduli misalnya, amat memungkinkan dan memberi kemudahan bergerak bagi kaum aktivis perempuan dalam memperjuangkan perdamaian yang lebih hakiki dan berkelanjutan. Seperti diakui oleh  kaum aktivis perempuan: “beruntung sekali bahwa Ibu Paula adalah Wakil gubernur saat konflik, sehingga mempermudah dan memperlancar ruang gerak perempuan!” (#3). Kondisi seperti itu amat memungkinkan mobilisasi gerakan bersinergis yang bersifat vertikal ke atas (melalui para pejabat elit dan para isteri), maupun ke bawah dengan akar rumput/komunitas basis secara horisontal.

Tulisan esai yang ditulis bersama oleh seorang aktor kunci pegiat perempuan peduli perdamaian Ambon, dan seorang laki-laki pemerhati masalah perempuan dan gender dalam pembangunan ini bukannya tanpa tujuan. Seperti akan dilihat bahwa keterlibatan laki-laki sebagai speakperson dalam menemu-kenali, dan menulis besar-besar pengalaman bermakna dari kaum perempuan peduli perdamaian sekecil apapun, merupakan sebuah strategi  (#3#6), bagi perwujudan perdamaian hakiki melalui dan demi perwujudan pembangunan yang berkeadilan. Karena kendati besar sekali kontribusi peran kepeloporan perempuan bagi perdamaian di Ambon Maluku, dan dimana-mana, akan tetapi masih cenderung diabaikan, khususnya oleh karena dominasi wacana dari kaum lelaki. Berikut ini dibahas tentang eran kepeloporan perempuan bagi perdamaian.

Perempuan Pelopor Kemanusiaan & Perdamaian.

Para aktor perempuan peduli perdamaian ini umumnya juga adalah korban dalam konflik Ambon termasuk di antaranya Suster Brigita PBHK (#4) –yang menjadi pengungsi dari Ahuru Agustus 1999, dan Hilda Rolobessy pengungsi dari Batu Merah Dalam, 1999 (#2). Akan tetapi, para aktor aktivis pengungsi ini mengakui bahwa justru di tengah pengalaman penderitaan itu, serta menyaksikan betapa banyaknya korban dan para pengungsi yang amat menderita khususnya dari kaum perempuan (dan anak-anak) itulah, maka muncul semangat dan tekad bulat yang mendorong dan menggugah mereka untuk bertindak, melakukan sesuatu untuk menghentikan kekerasan, menghentikan konflik dan memperjuangkan perdamaian.  Menarik bahwa para perempuan peduli ini berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda, berjuang pada aras dan wilayah yang berbeda, dan lahir dari wadah yang berbeda, dan mereka ternyata menjadi pelopor perdamaian dan kemanusiaan pada bidang khasnya masing-masing, baik secara formal vertikal maupun secara non formal horisontal. Namun dengan tetap menekankan sebuah fokus yang utama yakni “bagaimana membangun perdamaian melalui kaum perempuan dan anak-anak” (#1#2#3#4#5#6).

Pada tingkat individu, muncul sejumlah perempuan pelopor perdamaian. Ibu Lucy Pelouw (#6) misalnya, memulai mempelopori dan menginisiasi gerakan intervensi psikologis bagi para pengungsi korban konflik dari Hila dan Buru. Mulai dari kelompok kecil kaum muda gereja. Bantuan intervensi psikologis ini dirasakan merupakan kebutuhan urgen bagi para korban pengungsian, akan tetapi hingga saat itu (1999/2000) belum disentuh oleh para relawan, aktivis, dan organisasi-organisasi yang ada baik lokal maupun dari luar. Karenanya, beliau tergugah untuk memprakarsai sekaligus menggeluti bidang intervensi psikologis tersebut semenjak tahun 1999 yang kemudian diorganisir melalui Sebuah Yayasan yang diberi nama: ekkaleo (1999). Ibu Hilda Rolobessy  (#2) misalnya, berangkat dari komitment pribadinya dalam organisasi muda NU memulai dengan memprakarsai usaha-usaha awal bantuan emergensi, yang kemudian diikuti upaya menginisiasi bantuan intervensi pendampingan trauma psikologis bagi para pengungsi korban, khususnya bagi para isteri yang ditinggal mati oleh para suami dan anak-anaknya karena konflik. Demikian halnya dengan Ibu Rosa Penturi (#3), yang mengambil inisiatif membangun jaringan memperjuangkan perdamaian melalui pemberdayaan interaksi bersama kaum muda & remaja di Ambon.

Gerakan Perempuan Peduli (GPP) perdamaian di Ambon tahun 1999. Intens dan meluasnya konflik di Ambon yang terus memakan banyak korban nyawa tak berdosa, terus membuat pusing Bapak Gubernur & Ibu Wakil Gubernur beserta jajaran Pemda Maluku. Dalam Rapat Pemda tanggal 06 Agustus 1999 pagi hari disimpulkan antara lain bahwa ‘sangat diperlukan sebuah gerakan perdamaian yang dimulai dari bawah’, sebagaimana dituturkan oleh Ibu Paula, Wagub kepada Suster Fransisco PBHK dkk. (#5#4). Pada saat yang sama telah muncul inisiatif awal yang disampaikan oleh Suster Fransisco PBHK kepada para koleganya tentang perlunya ‘suatu gerakan perempuan dari bawah’. Dan untuk itu beliau ingin bertemu dengan Ibu Wakil Gubernur untuk mendiskusikan gagasan ini. Ketika sore hari tanggal 6 Agustus 1999 itu juga ditemui dan didiskusikan gagasan tersebut bersama Ibu Wagub. Ternyata Ibu Wagub sangat menyambut baik bahkan secara spontan beliau mengatakan ‘Tuhan telah menjawab harapan Pemda!’ (#4#5).

Dilanjutkan pertemuan bersama Ibu-ibu Pendeta (15 orang) untuk membicarakan gerakan perempuan ini. Disepakati bersama beberapa kegiatan awal seperti: ditetapkan gerakan doa bersama untuk perdamaian setiap jam 21.00 malam. Juga ingin langsung menyatukan perempuan muslim di dalam gerakan bersama. Tanggal 7 Agustus 1999 pagi perempuan pelopor ini bertemu ibu Wagub untuk mendiskusikan tentang gerakan perempuan ini dan Ibu wagub mendukung sepenuhnya dan bahkan beliau memberi nama: “Gerakan Perempuan Peduli!”. Ibu wagub lantas menghubungi Isteri Gubernur (Ny. Latukonsina) agar membantu memfasilitasi dan mempertemukan Ibu-ibu muslim 15 orang bersama Ibu-ibu Kristen. Pertemua perdana antara Ibu-ibu Islam dan Kristen terjadi di rumah Bapak Gubernur Saleh Latukonsina pada tanggal 7 Agustus 1999. Dikatakan suasana awal amat menegangkan saling curiga, saling benci, mengumpat, duduk saling membelakangi, memaki dan melepaskan kemarahan satu sama lain, benar-benar panas. Lalu peluk damai terjadi tangis haru pilu di antara mereka dan lahir komitment untuk bersama dalam gerakan perempuan peduli (#4).

Maka lahirlah Gerakan Perempuan Peduli (GPP) yang juga melibatkan para aktivis muslim. Adapun agenda utamanya disamping doa bersama, kampanye stop kekerasan dan pertikaian, fokus kegiatan untuk kebersamaan mewujudkan rekonsiliasi, mengupayakan rekonsiliasi antar warga masyarakat, serta memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak (Sr. Brigitta, 2003). Semua bersepakat doa bersama digelar setiap hari tetapi waktunya dilakukan pada jam sholat. Selain doa bersama, maka agenda utama adalah kampanye dan loby intensif untuk Stop Kekerasan & Pertikaian. Kegiatan kampanye stop kekerasan dan pertikaian terus dikomunikasikan antara lain secara vertikal ke atas melalui komunikasi intensif dengan para pejabat sipil dan militer, melibatkan para isteri pejabat sipil dan militer guna mempengaruhi suami mereka, melalui aksi demo damai massal ke para pejabat berwenang termasuk ke Pusat. Inisiatif yang sama juga dilakukan secara horisontal ke bawah dengan mendampingi para ibu dan anak-anak yang suka berperang untuk menghentikan kekerasan untuk kembali berdamai di antara anak-anak kristen dan muslim melalui berbagai kegiatan interaksi bersama. Adapun koordinator dari Gerakan Perempuan Peduli ini adalah Ibu Pendeta Hendriks (GPM), Ibu Retty Assegaf (Muslim), dan Suster Brigitta PBHK (Katolik) (#4).

Patut dicatat pula di sini bahwa sebagai Laki-laki, saya akui bahwa keterlibatan langsung di dalam karya kemanusiaan dan perdamaian di dalam Konflik Ambon juga justru karena peran kepeloporan dari Perempuan Peduli. Adalah Ibu Margareta, seorang aktivis kemanusiaan dari JRS/TRUK Jakarta, yang tiba di Ambon Februari- Maret 1999 bertemu dengan saya dan beberapa teman. Melalui peran mediasi dan fasilitasi dari Ibu Eta ini maka saya bersama teman-teman membentuk sebuah organisasi Voluntir dengan nama: Tim Relawan Kemanusiaan Ambon – Maluku (TIRAM). Selama kerja kemanusiaan ini saya lebih banyak belajar dari Aktivis perempuan peduli lokal maupun nasional seperti : Ibu Karlina Leksono dan Ibu Wardah Hafidz. Demikian peran kepeloporan perempuan peduli perdamaian ini juga amat mempengaruhi jalannya proses-proses menuju rekonsiliasi di Ambon Maluku.

Perempuan: Antara Perdamaian Malino & Akar Rumput!

“Ada sesuatu yang luput dari perhatian semua orang bahwa yang ikut memberi andil besar dalam usaha-usaha penghentian konflik adalah inisiatif-inisiatif lokal melalui relasi dan interaksi kelompok masyarakat pada level yang paling bawah, misalnya supir-supir truk, jibu-jibu (penjual ikan), pedagang kaki lima, mereka berinisiatif membentuk zona-zona khusus untuk berinteraksi (zona baku bae), dan berproses menuju rekonsiliasi”. (Toisuta dkk., 2007).

Kutipan di atas hendak menegaskan betapa signifikannya proses-proses perdamaian yang terus dilakukan sendiri oleh masyarakat pada level yang paling bawah-akar rumput (grass roots); yang cukup sering diperbedakan dari ataupun dipertentangkan (?) dengan Pertemuan Damai Malino II, yang dianggap sebagai lebih bercorak politis dan elitis (#2#3#6). Sayang sekali bahwa kutipan diatas tidak menyinggung tentang peranan dari kaum perempuan peduli yang juga menjadi contoh baik untuk perdamaian Ambon & Maluku.

Padahal patut diakui bahwa kaum perempuan adalah motor penggerak di dalam proses-proses rekonsiliasi menuju perdamaian hakiki pada komunitas-komunitas basis atau akar rumput. Misalnya melalui berbagai kegiatan trauma healing dan pendampingan yang intensif bagi kaum wanita dan para anak-anak muda/remaja. Kelompok-kelompok anak muda didekati dan didampingi, diajak berhenti berperang, dan dipersiapkan untuk berinteraksi antara anak-anak muslim dan Kristen melalui berbagai forum interaksi bersama. Misalnya pertemuan rutin Mingguan antara anak-anak muslim di THR dengan anak-anak Kristen yang digagas dan diorganisir oleh Lucy Pelouw (#6). Demikian halnya pendampingan bagi anak-anak Agas (Kristen) & Lingis (muslim) yang terus dilakukan oleh Suster Brigitta dan teman-teman aktivis dalam Gerakan Perempuan Peduli melalui berbagai forum dan aksi seperti : demo damai penyampaian suara hati perempuan dan jeritan hati anak-anak kepada Para Pejabat Sipil dan Militer. Para Ibu yang ditinggal pergi oleh para suami dan anak-anak dalam konflik terus didampingi dan disembuhkan trauma batinnya (#1#2#4#6). Sementara itu, berangkat dari desakan kebutuhan ekonomi maka para Ibu secara spontan melakukan aktivitas ekonomi di Pasar-pasar kaget di daerah-daerah batas seperti di Mardika, Pohonpule, Lampu Lima dan Rumah Sakit Tentara (RST). Para Ibu ini kemudian didampingi, disupport dan dikuatkan oleh gerakan perempuan peduli bersama para aktivis perempuan dalam melakukan pertemuan rutin dan bertransaksi misalnya di RST. Bahkan melalui kegiatan ekonomi para itu itu maka lambat laun menjadi semacam “Pasar Baku Bae” (Pasar Perdamaian) di Mardika di mana sangat besar peranan kaum perempuan di dalamnya (#1#2#3#4#5#6). Gerakan Peduli Perempuan juga terlibat aktif di dalam jaringan forum baku bae maluku. Dan ternyata besar sekali dampak positif karena secara perlahan anak-anak menjadi paham dan sadar sehingga bisa menjadi mitra bagi para ibu untuk terus mengajak para Ayah, suami dan para lelaki berhenti berperang misalnya (#4#6).

Perjanjian Damai Malino II yang diadakan di Malino Sulawesi Selatan pada tanggal 11-12 Februari 2002 yang menghasilkan sebelas butir kesepakatan “Perjanjian Maluku di Malino” sebaliknya cenderung dianggap sebagai lebih bercorak elitis dan politis dan bahkan maskulinistis. Mengapa? Karena dari 200-an peserta pertemuan Malino II, hanya terdapat tiga (3) orang wakil perempuan dan semuanya Kristen, termasuk Suster Brigitta PBHK (#4).  Berikut petikan komentar dari Sr. Brigitta di dalam forum Malino: Suster bertanya:

“Mengapa kita datang berdamai di Malino ini jalan terpisah-pisah dan sendiri-sendiri: Islam jalan sendiri dan Kristen Sendiri?” “Dimata perempuan ini lucu: karena diissukan bahwa islam tidak mau jalan dengan kristen dan kristen tidak mau jalan dengan islam?” (#4)

Kembali dari Malino ternyata semua peserta Islam-Kristen sama sama naik pesawat yang sama. Kata Gubernur Sulawesi Selatan (Pak Palaguna) dalam pidatonya berucap: ‘terima kasih Suster Brigitta karena suster punya doa telah dikabulkan!” Suster Brigitta sendiri mengakui “Sebetulnya tidak perlu ada Malino kalau laki-laki dengan perempuan” Hentikan kekerasan dan pertikaian!” Ternyata perjanjian damai malino 2002 yang mengandung bias ‘elitis’ dan ‘politis’ saja tidak memadai dalam menegakkan perdamaian yang hakiki di Ambon. Jangan lupa: “Malino hanya puncak saja tetapi masyarakat kecil telah melakukan rekonsiliasi kecil-kecil” (Baku Bae Maluku, misalnya) (#4).

Perlunya Pemberdayaan Perdamaian Melalui Pembangunan Yang Adil Gender

Menurut Tamagola (2007), “rapuhnya implementasi hasil kesepakatan damai Malino II disebabkan karena “kelompok yang merasa tidak diikut-sertakan dalam Malino 2 untuk Ambon jauh lebih banyak dan mempunyai dukungan akar rumput yang kuat”. Bahkan ditegaskan oleh Lucy Pelouw (#6) bahwa sampai tahun 2004, corak perdamaian yang dilakukan di Ambon masih cenderung rapuh. Karena memang masih terdapat para pihak baik Islam maupun Kristen yang belum menginginkan perdamaian karena berbagai alasan. Sosialiasi perjanjian Malino yang dilakukan oleh para peserta ternyata mendapatkan tantangan luar biasa, termasuk yang dialami oleh Suster Brigitta dkk., tetapi terutama yang dialami oleh para aktivis perempuan muslim (#2#3#4). Suster Brigitta sendiri pernah diancam nyawanya di lokasi penyerangan dan pembantaian yang dilakukan oleh kelompok pasukan siluman di Desa Soya tahun 2002 – yang mana mereka juga sangat anti dengan perdamaian Ambon (#4). Karenanya sebagai sebuah strategi, tidak usah melakukan perdamaian dengan memakai atribut-atribut seperti ‘damai’, ‘resolusi’, dst., melainkan hendaknya dicoba dilakukan melalui berbagai kegiatan lainnya seperti pendidikan, layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta berbagai kebutuhan sosial yang langsung dirasakan oleh Masyarakat. Ini akan lebih mendasari sebuah perdamaian yang lebih hakiki berkelanjutan ke depan (#6).

Menyadari kondisi seperti di atas, maka para aktor perempuan peduli kemudian memantapkan agenda-agenda perdamaian melalui pendampingan, penguatan dan pemberdayaan kelompok-kelompok anak/remaja/kaum muda, dan para ibu. Suster Brigitta misalnya, terus melakukan sosialisasi, kampanye dan advokasi mengenai hak-hak perempuan dan anak-anak, termasuk memulai menggiatkan children center di Ambon (#4). Ibu Rosa Penturi (#3) misalnya, aktif melakukan kegiatan pemberdayaan kaum muda remaja melalui berbagai kegiatan diskusi interaktif melalui radio pelangi, radio suara damai Maluku, serta melakukan pendampingan pencegahan narkoba & HIV AIDS. Ibu Hilda Rolobessy (#2) misalnya, terus melakukan kegiatan sosialisasi ‘peace building untuk resolusi konflik’, bekerja sama dengan pemerintah daerah menyakinkan dan mengembalikan para pengungsi ke kampung-kampung asalnya seperti di Waai, Loki, La ala di Seram. Juga melakukan kegiatan pemberdayaan kesadaran kritis masyarakat bahwa hidup dalam konflik tidak enak. Bahwa manusia hidup tidak didasarkan atas perbedaan agama tetapi di dalam kasih, perdamaian dan visi umat –kemanusiaan. Dan dalam tahun 2003-2004 mewakili Lakpesdam NU Kota Ambon melakukan negosiasi dengan lembaga donor dan para pihak guna mendirikan NGO Early Warning System for Conflict Prevention (EWS) di Ambon. Dan bersama Koleganya Justus P. Pattipawae yang dianggap berkomitment & independen ditetapkan menjadi penanggung jawab dari EWS Ambon Maluku dengan visi tercapainya kemandirian lokal (local knowledge, local perspectives, local mechanisms, local capacity) bagi perdamaian dan peningkatan kualitas hidup masyarakat (Profil EWS, 2007). Ibu Lucy Pelouw (#6) melalui Yayasan ekkaleo, tetapi juga melalui keterlibatannya di JICA Ambon, tetap komit bekerja untuk perempuan melalui aktivitas penelitian mandiri & publikasi, membuat modul-modul pendidikan & pelatihan anak dan gender dalam kerjasama dengan UNICEF.

Memang keterlibatan perempuan di dalam ruang publik pembangunan dan kepemimpinan publik di Ambon Maluku mulai makin signifikan. Setelah Ibu Paula Renyaan menjadi Wagub, kini tampil Ibu Olivia Latukonsina sebagai Wakil Wali Kota Ambon periode 2006-2011 (juga Ibu Irma Betaubun yang tampil juga sebagai calon wakil wali kota waktu itu). Mereka semua adalah aktor aktivis perempuan peduli dari Ambon Maluku. tantangannya adalah entahkan telah ada sharing power dan bargaining power di dalam kepemimpinan publik tersebut? (#6). Karenanya diperlukan usaha kontinu untuk membuka akses bagi keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan dan pembangunan. Dan memang untuk itu, maka dibutuhkan program penguatan kapasitas perempuan dalam pembangunan dan kepemimpinan (#3). Tampaknya peran fasilitasi dari pemerintah kota Ambon telah ada. Misalnya telah ditetapkannya program kegiatan pelatihan hak-hak perempuan telah diakomodir di dalam renstra RPJM Kota Ambon (#2#3#6). Akan tetapi seperti ditegaskan oleh Lucy Pelouw (#6) bahwa capacity building juga perlu dilakukan untuk laki-laki khususnya agar supaya bisa mengerti, memahami dan menyadari kebutuhan dan hak-hak obyektif dari perempuan dalam pembangunan menuju pada terciptanya perdamaian yang hakiki dan berkelanjutan ke depan.

Perlunya Spokeperson Tentang Perempuan Sebagai Strategi?

Ketika saya (Josep) menghubungi para aktor perempuan peduli untuk melakukan diskusi dan wawancara tentang topik ini, beberapa di antara mereka secara spontan menyatakan apresiasi dan menambahkan bahwa itu juga harapan dan strategi mereka (perempuan) (#3#6). Bahwa sebaiknya laki-laki menulis tentang perempuan agar lebih ‘obyektif’, tetapi juga agar lebih meyakinkan kaum lelaki, khususnya dalam kondisi di mana perempuan masih mengalami resistensi dari perilaku dan kultur maskulinistis & feodalistis (#3). Ini mengingatkan saya pada beberapa pengalaman sebelumnya. Dalam mempersiapkan sebuah Makalah berjudul : “Peranan Civil Society dalam Mewujudkan Perencanaan Pembangunan daerah Kepualaun Partisipatif yang Sensitif Bencana di Provinsi Maluku” untuk dipresentasikan dalam Seminar “Local Development Plan” di Ambon tanggal 30 April 2005, saya ternyata lupa untuk memasukkan isu perempuan dan gender. Dan karenanya kolega saya: Habiba Pelu, seorang aktivis perempuan peduli dari Lakpesdam NU langsung memasukkan satu point khusus tentang ‘bias gender dalam perencanaan pembangunan daerah’ (Pelu & Ufi, 2005). Dan selanjutnya, saya terus menggeluti persoalan gender dan perempuan di beberapa forum di Ambon tahun 2006. (Ufi, 2006a,b). Kepedulian yang sama telah menghantar saya untuk terlibat aktif dalam sebuah NGO Lokal Lembaga Pemberdayaan Anak Marginal & Gender (LPAM) Ambon, di mana telah dilakukan berbagai kegiatan sosialisasi, penguatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat berbasis gender. Misalnya LPAM dalam kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Ambon telah menggelar Semiloka Sehari tentang : Pelatihan Model Pendidikan Gender Bagi Keluarga Pada Wilayah Konflik dan Capacity Building tanggal 15 November 2006 di Halong Ambon. Dan sebagaimana telah saya singgung di bagian depan, bahwa keterlibatan saya di dalam kerja kemanusiaan dan perdamaian di Ambon, dimotivasi pertama-tama oleh Para Perempuan Peduli seperti Ibu Margaretha (Eta) dari TRUK Jakarta, Sr. Fransisco PBHK, serta dimotivasi dan dibekali oleh para aktivis perempuan Jakarta seperti Ibu Wardah Hafidz, dan Ibu Karlina Leksono melalui berbagai perjumpaan dan sharing.

Bahwa dalam kondisi yang rapuh, yang rentan, yang tidak menentu, yang malang melintang termasuk dalam Konflik Ambon, maka peran perempuan amat menentukan justru karena mereka bekerja dengan HATI. Kepekaan nurani dan Hati ini merupakan sebuah kekhasan , keunggulan komparatif – kompetitif dibandingkan dengan laki-laki. (#3#4#6). Perempuan cenderung tampil sebagai motivator, filter, dan sumber hidup keluarga –termasuk tulang punggung ekonomi keluarga saat konflik (#3#2#6; juga komunikasi pribadi dengan Pak Kace Riri, SH.). Pengalaman-pengalaman kecil nan indah & bermakna seperti ini perlu ditulis besar-besar, dapat menjadi pelajaran berharga untuk ditiru dan dipelajari khususnya oleh kaum lelaki. Sebagaimana diungkapkan sebagai harapan seorang Bule di dalam kesempatan Konferensi Penelusuran untuk Keberdayaan Masyarakat Maluku di Bali 28-31 Maret 2000, bahwa “hope to hear & learn more from people (especially women) of Maluku” (dalam Hadar, 2000). Sehingga mendukung terciptanya perdamaian yang lebih hakiki berkelanjutan ke depan!

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amirrachman, A. (ed.) (2007) Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso, ICIP Jakarta.
  2. EWS Profile (2007), Ambon.
  3. Hadar, I.A. (ed.) (2000). Ambon Damai Lebe Bae : Community recovery in Ambon. Kerjasama dengan IDE & the British Council, Jakarta.
  4. Marantika, L. (2007) “Peran Strategis Perempuan Untuk Perdamaian di daerah Konflik”, dalam A. Amirrachman (ed.) Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso, ICIP Jakarta, hal. 319-323.
  5. Renyaan, B.,Sr., (2003) Laporan: Selayang Pandang GPP, Ambon.
  6. Tamagola, A.T. (2007). “Anatomi Konflik Komunal di Indonesia: Kasus Maluku, Poso dan Kalimantan 1998-2002, dalam A. Amirrachman (ed.) Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso, ICIP Jakarta, hal. 271-308..
  7. Toisuta, H. dkk. (2007). “Damai … Damai di Maluku!”, dalam A. Amirrachman (ed.) Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso, ICIP Jakarta, hal. 110-201.
  8. Pelu, H. & Ufi, J.A. (2005). “Peranan Civil Society Dalam Mewujudkan Perencanaan Pembangunan Daerah Kepulauan Partisipatif Yang Sensitif Bencana di Provinsi Maluku”, Makalah: Seminar LDP- UNDP-Bappeda, Unpatti, Ambon.
  9. Ufi, J.A. (2006a), “Gender Sebagai Konstruksi Sosial Budaya”, Makalah, Lokakarya Gender: Komisi Perempuan Keuskupan Amboina, Ambon.

10.  Ufi, J.A. (2006b), “Perempuan dan Budaya Maluku”, Makalah: Seminar Bimas Katolik Departemen Agama Kantor Wilayah Provinsi Maluku, Ambon.

Lampiran 01.

DAFTAR WAWANCARA & DISKUSI

No.

Tanggal

N a m a

Organisasi

01.

02.

03.

04.

05.

06.

06 Februari 2007

07 Februari 2007

07 Februari 2007

06-09 Februari 2007

07 Februari 2007

08 Februari 2007

Ibu Batje Pattiselano

Ibu Hilda Rolobessy

Ibu Rosa Pentury

Sr. Brigitta Renyaan

Sr. Fransisco PBHK

Ibu Lucy Pelouw

Gerakan Perempuan Peduli

EWS Social Conflict Ambon

Yayasan Pelangi Suara Damai Ambon

Yayasan Kasih Mandiri (Perlindungan Bagi Anak & Perempuan)

Yayasan Rinamakana Ambon

Yayasan Ekkaleo


[i] Esai Kontributif untuk Konferensi Internasional yang bertema : Perempuan Untuk Perdamaian Kerjasama Fakultas Filsafat dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Kementrian Pembangunan Norwegia di Hotel Grand Hayt Jakarta, 31 Maret s.d. 1 April 2006

[ii] Lembaga Pemberdayaan Anak Marginal & Gender /LPAM Ambon ; dan Staf Dosen pada Jurusan Sosiologi FISIP Unpatti Ambon. HP. 081343328450 ; email : oce20002000@yahoo.com ; website: www.esst02.net; Suster Brigitta PBHK, Koordinator Yayasan Kasih Mandiri Untuk Anak dan gender Ambon.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: